Yamamoto Chapter 2

0

 Chapter 2 

"Do" dari Dragon adalah "Do" dari Teman Seperjalanan



Yang aku tabrak dengan keretaku tadi itu... kadal kecil bersayap? Atau mungkin seekor naga?


Makhluk itu sekarang tergeletak tak berdaya, mungkin karena tertabrak kereta, dan sedang dalam status "stun".


Kalau tidak salah, di papan diskusi strategi disebutkan bahwa jika kita memicingkan mata, akan terlihat semacam aura di sekitar seseorang: biru berarti pemain, hijau berarti NPC, dan merah berarti monster.


Jadi, karena kadal kecil ini memancarkan warna biru, aku tahu dia adalah pemain. Tapi...


"Untuk menghilangkan bukti, harusnya aku kubur aja si kadal kecil ini?"


"Heiii!? Kenapa ngomongnya serem banget sih!?"


Tsk. Sepertinya efek stunnya sudah hilang. Harusnya aku jangan terlalu lama mengamatinya tadi.


"Kenapa kamu klik lidah segala!? Kamu yang nabrak aku, tapi sikapmu malah begitu! Keterlaluan!"


"Ya ya, tenang dulu, Tuan Kadal."


"Aku bukan kadal! Aku naga! Tepatnya, Fairy Dragon! Imut kan!?"


"Kamu sendiri yang bilang imut, ya?"


Tapi serius, Fairy Dragon, ya... bukannya itu nama monster dari game RPG terkenal?


"Ngomong-ngomong, kamu juga pemain, kan?"


"Benar sekali. Aku adalah pemain yang mengalami pertemuan romantis yang luar biasa ini."


"Romantis dari mana!? Gaya ‘telat-telat!’ sambil bawa roti di mulut terus ditabrak kereta dari tikungan! Itu mah nggak romantis sama sekali! Kamu becanda, ya!?"


"Kamu punya selera humor juga ternyata."


"Ini salahmu semua, dasar!"


Si naga mini menatapku dengan mata kesal.


Yah... walaupun begitu, dia tetap... lucu.


"Ngomong-ngomong, kamu terlalu niat banget ngedesain wajah karakter. Cantik banget gitu..."


"Terima kasih, tapi sayangnya ini wajah asli tanpa editan."


"Yaa kali! Orang yang bisa ngedesain kereta serinci itu, masa wajah karakternya dibiarkan polos!?"


Hmm, masuk akal juga sih. Mana ada yang niat ngatur semua detail tapi nggak sentuh bagian wajah avatarnya?


Baiklah, kita pakai alasan itu aja.


Padahal kenyataannya aku udah kelelahan ngatur desain senjata, armor, kereta, dan peti mati...


"Kereta juga tanpa editan, loh."


"Kalau gitu, wajah naga imutku ini juga tanpa editan dong!? Tapi kenapa jadi kayak tanding-tandingan gini!? Konyol banget sih!"


Sepertinya, pemain pertama yang berinteraksi denganku ini cukup menyenangkan.


Setidaknya bukan tipe orang yang nyebelin. Kalau tadi aku bertemu dengan orang yang menyebalkan, mungkin aku langsung logout dan nggak balik-balik.


"Ya udahlah. Namaku Tatsu. Seperti yang kamu lihat, aku pemain ras monster. Kalau kamu?"


"Aku Yamamoto. Secara penampilan sih kayak manusia, tapi sebenarnya aku Dilahan. Nih, liat."


Kupret kepala dari leherku dan memperlihatkannya. Tatsu langsung lompat mundur sejauh tiga meter.


"Uwaaa!? Astaga! Itu apaan!? Kamu bukan manusia dong!"


"Aku cuma mau bilang kalau aku juga pemain ras monster, kayak kamu."


Aku menyambungkan kembali kepalaku ke leher, lalu memutarnya sedikit sampai terasa kencang.


Sekarang, nggak bakal gampang copot!


"Oh, jadi kamu juga ras monster toh. Tertipu deh sama penampilanmu. Kalau begitu, tujuan kita mungkin sama ya."


Kemungkinan besar sih. Di pojok mataku pun masih kelihatan panah petunjuk yang terus muncul, jadi kurasa Tatsu juga bisa melihat panah yang sama.


"Kalau gitu, gimana kalau kita jalan bareng? Yamachan?"


"Yamachan…"




"Nama panggilan, dong, nama panggilan. Soalnya banyak banget pemain yang namanya susah dibaca. Makanya aku kasih nama panggilan biar gampang nyebutnya."


"Begitu ya."


Memang, di internet banyak banget orang yang namanya terlalu ribet sampai bingung gimana bacanya.


"Oke~ Ayo kita pergi bareng. Tatsu-san, naik aja ke keretaku. Jadi lebih gampang pindah tempat~"


"Itu kereta yang tadi nabrak aku, loh..."


Tatapannya kayak pengen bilang sesuatu. Tapi aku sengaja cuekin aja.


Yang penting, aku tonjolkan dulu dari sisi kemudahan.


"Gampang banget loh. Kalau pemain diam di tempat, kecepatan pemulihan alami jadi naik sedikit, terus monster bisa langsung kelindes juga."


"Justru gara-gara itu aku hampir mati dan balik ke titik awal, tahu nggak!? Tapi ya sudahlah. Kalau begitu, aku numpang, ya. Jujur aja, HP-ku udah di zona merah dan rasanya mau mati."


Ternyata, serangan tabrak lari dari kereta tadi secara nggak langsung jadi bukti betapa bergunanya fitur ini.


"Kenapa kamu keliatan senang gitu sih...? Dengar ya, aku kasih tahu aja nih. Stas-ku itu kayak tisu—lemah banget. Jadi, jangan hitung kereta itu sebagai senjata, oke?"


Ngomong-ngomong, kalau HP sampai masuk zona merah dalam sekali serangan, bakal langsung kena efek stun juga, katanya.


Ternyata bukan efek spesial dari serangan tabrak lari keretaku, ya...


Sedikit kecewa, tapi aku tetap bantu Tatsu-san naik ke kursi kusir dan segera melanjutkan perjalanan menuju kota.


◆◇◆


"Tau nggak, aku ini sebenernya alpha tester loh."


Saat sedang naik kereta, sesekali menabrak monster, Tatsu-san tiba-tiba mengaku seperti itu sambil mengobrol santai denganku.


Memang dari tadi, aku merasa dia punya pengetahuan dan pengalaman yang dalam. Dia pernah bilang kalau dia memilih ras monster karena bisa berevolusi, dan juga cara dia melawan monster itu terlihat sangat terlatih.


Ternyata, dia pernah ikut dalam pengujian saat game ini masih dalam tahap pengembangan.


"Ya meskipun cuma kerja sambilan, sih. Kerjaannya nemuin bug dan ngelaporin ke developer."


"Hee~ jadi itu sebabnya kamu keliatan udah lihai banget lawan monster, ya?"


Normalnya, berubah jadi makhluk berkaki empat itu pasti susah banget buat gerak. Apalagi Fairy Dragon itu kan terbang terus, jadi harus jaga posisi di udara terus-menerus. Tapi dia bisa menyerang tepat ke titik lemah monster dengan mulus. Jelas itu bukan sesuatu yang bisa dilakukan pemain pemula.


"Yah, walau begitu, aku juga sempat berhenti di tengah jalan."


"Kenapa tuh?"


"Bug-nya kebanyakan. Udah dilaporin terus, tapi nggak ada habisnya."


Aku merasa relate banget sama yang dia bilang...


"Ya meskipun waktu itu kacau banget, tapi karena sekarang udah rilis, berarti bug-bug fatalnya udah lumayan dibersihin, kan. Kalau dipikir sekarang, ya jadi kenangan manis juga."


Ngomong-ngomong, aku pernah baca artikel kalau game ini nggak buka tes beta buat umum. Waktu itu alasannya karena ada kontrak kerahasiaan, dan katanya ada tim tester profesional.


Tapi sekarang jadi agak curiga juga sama cerita itu.


Ya, namanya game online, pasti sambil jalan juga bakal ada perbaikan. Toh, realisme dan kebebasan dalam game ini memang luar biasa dibanding VRMMORPG lain yang pernah aku coba.


"Ngomong-ngomong, beneran ya, di game ini bisa ngerasain rasa makanan?"


"Ya iyalah. Makanan mewahnya bangsawan tuh, bener-bener enak banget, kayak rasa dari dimensi lain."


"Wah, aku jadi pengen nyoba..."


Haaah… pengen banget makan steak tebal dan juicy...


Malah, kayaknya aku bakal ambil skill 【Memasak】 deh. Bisa juga tuh masak bahan makanan aneh-aneh dan nebak-nebak rasanya. Seru juga.


"Ya walaupun rasa bisa kerasa, itu bukan berarti semuanya enak, loh. Kalau ada rasa enak, berarti ada juga rasa yang... ya gitu deh."


"Yang 'gitu'...? Jangan-jangan, Tatsu-san pernah nyobain rasa yang... buruk?"


"Apes aja waktu itu masuk ke daftar tes. Sampai lidahku mati rasa. Jadi hati-hati ya."


"Kalau bisa hati-hati sih enak, tapi kalo lihat bahan makanan aneh, aku tuh suka kepo dan pengen nyoba..."


Sambil ngobrol ngalor-ngidul sama Tatsu-san, kami pun terus melaju zig-zag melewati hutan.


Soalnya keretaku gede banget. Jadi, kalau mau lewat jalan yang nggak ngerusak hutan, mau nggak mau harus muter jauh.


Meski begitu, belum dua jam jalan, kami akhirnya bisa melihat tembok kota yang tinggi banget—sampai leher sakit kalau liat ke atas.


"Tatsu-san, kayaknya itu tujuan kita deh?"


"Aku juga nggak ikut ngembangin bagian ini, jadi nggak yakin, tapi... kemungkinan besar sih iya."


Sepertinya kami udah sampai di tujuan. Kalau begitu...


"Kayaknya waktunya simpen keretanya dulu."


"Emang nggak boleh bawa kereta ke dalam kota?"


"Bukan gitu. Tapi keretaku punya banyak syarat ribet."


Jadi, kami balik sedikit ke hutan, dan aku tabrak seekor katak gendut dan berwarna mencolok sampai dia kena stun.


"Kepada kamu, aku menjatuhkan vonis kematian!"



▼ Kamu telah menjatuhkan Vonis Kematian kepada Niseyama Sakana.



Padahal jelas-jelas bentuknya katak, tapi namanya Niseyama Sakana (Ikan Gunung Palsu)? Mungkin ada monster yang beneran bentuknya Ikan Gunung kali, dan ini cuma tiruannya.


"Atas nama keadilan, kutebas kau!"


Aku pun menebas Niseyama Sakana yang nggak bisa bergerak, lalu menyimpan keretaku.



▼ Vonis Kematian berhasil dilakukan.

▼ Mendapatkan 12 EXP.

▼ Mendapatkan 10 Batu Hadiah.

▼ 【Balance】 aktif. Menyesuaikan jumlah barang yang diperoleh.

▼ Mendapatkan tambahan 2 Batu Hadiah.



"Apa!? Keretanya ilang gitu aja!?"


Tatsu-san berhasil menghindari jatuh ke tanah dengan langsung terbang, dan aku cukup kagum dengan refleksnya.


"Itu emang skill-nya begitu."


"Skill aneh bener ya."


Meskipun syaratnya ribet, skill ini sebenernya lumayan praktis.


"Kalau begitu, kita ke arah kota yuk?"


"Yuk. Aku juga pengen selesain tutorial, terus upgrade equipment juga."


"Emangnya ada perlengkapan yang muat di badan kamu?"


"Yaa... pasti mesti custom sih."


"Kalau gitu, gimana kalau aku yang buatin?"


"Hah? Yama-chan bisa bikin perlengkapan?"


"Setelah ngerasain sendiri pertarungan di LIA, aku sadar kalau aku nggak terlalu jago bertarung langsung. Jadi, kupikir mending fokus jadi profesi produksi aja."


"Kalau mau jadi produksi, skill yang diambil banyak banget, loh. Jadi pikirin baik-baik sebelum ngambil, biar SP kamu nggak habis. Kuncinya, jangan serakah."


"Siap, bakal kuingat baik-baik."


Ya meskipun sekarang aku belum ambil skill produksi apa pun sih...


Tapi aku juga harus bisa rawat armor dan senjata Dilahan-ku. Jadi, kayaknya aku bakal fokusin ke 【Pandai Besi】 deh.


"Yaa, kalau nanti aku mau pesen peralatan ke kamu, kita ngobrol lagi setelah bahannya kumpul. Sekarang sih aku pakai yang murah-murah dulu aja."


"Maaf ya, kalau aku jadi sok menawarkan bantuan..."


"Gapapa kok. Malah jarang loh yang pengen jadi produksi. Aku seneng bisa ketemu sama Yama-chan."


Apakah profesi produksi memang sesulit itu?


Mungkin karena aku dari ras monster, dan kebanyakan dari mereka nggak pakai senjata. Jadi profesi bikin perlengkapan di kalangan monster kayaknya nggak umum. Apalagi ras dwarf yang jago bikin alat justru ada di sisi manusia.


Apa jangan-jangan, aku sedang memulai sebuah bisnis yang niche dan menjanjikan...?


◆◇◆


"Selamat datang di Kota Ketiga Pasukan Raja Iblis, ibu kota wilayah Evil Grande! Tempat ini diperintah oleh salah satu dari Empat Raja Surgawi, Tuan Raiko! Jangan sampai membuat keributan, ya! Baik, kalian boleh masuk!"


"Eh, terima kasih...?"


Aku menerima surat izin masuk sementara dari seorang prajurit kerangka, lalu masuk ke kota bernama Evil Grande bersama Tatsu-san. Aku sudah cukup terpukau dengan pemandangan yang realistis selama perjalanan, tapi NPC di tempat ini juga bikin aku kaget. Cara mereka berbicara sangat mulus, seolah-olah benar-benar bicara dengan pemain.


"Hebat juga ya, rasanya bukan kayak NPC."


"Yah, mereka memang menjual game ini dengan slogan 'Dunia Baru'. Kalau dilihat dari NPC-nya aja udah beda jauh dibanding game lain."


Sambil saling berbagi kesan dengan Tatsu-san, kami melewati sebuah gerbang hitam raksasa yang begitu tinggi sampai harus mendongak. Di gerbang itu, ada pahatan-pahatan misterius yang terukir di sana-sini—entah punya makna magis atau sihir. Sesekali, pahatan-pahatan itu memancarkan cahaya pelangi yang sangat indah. Kupikir, mending aku tangkap lewat screenshot... jepret!


Dan kemudian, pemandangan kota yang terlihat dari balik gerbang!


Kota ini juga didominasi warna hitam, dan bangunannya banyak yang didesain menyerupai pedang yang tajam. Bayangkan saja Sagrada Familia dari Spanyol—tapi warnanya hitam legam dan skalanya diperkecil—lalu dijadikan rumah-rumah biasa. Kira-kira seperti itu.


"Mungkin karena ini wilayah kekuasaan salah satu dari Empat Raja Surgawi Pasukan Raja Iblis, kita langsung tiba di kota yang hidup banget."


Saat Tatsu-san mengatakan itu, aku melihat-lihat sekeliling lagi, dan ternyata cukup banyak ras monster yang lalu lalang di kota ini. Ada kadal humanoid bersenjata, iblis seperti gabungan kerbau dan gorila berkulit ungu yang berkeliaran, bahkan raksasa bermata satu yang berjalan sambil menenggak tong bir dengan satu tangan. Malah, orang dengan bentuk tubuh manusia seperti aku justru minoritas di sini.


Wah, ini benar-benar terasa seperti dunia lain! Dan bisa merasakannya secara langsung itu luar biasa!


Awalnya aku pikir slogan "Kamu bisa merasakan dunia baru di LIA" itu cuma omong kosong khas game VRMMORPG—tapi ini benar-benar dunia baru! Bahkan debu di jalan, getaran yang ditimbulkan oleh tubuh besar para monster—semuanya terasa nyata!


"Benar-benar kayak kawah candradimuka ras ya."


Mungkin karena melihatku terpesona oleh suasana kota, Tatsu-san ikut memandangi sekeliling sambil berkomentar.


"Ya, walau sebenarnya bukan ras manusia juga sih."


"Ya juga sih."


Kalau di kota manusia, mungkin para elf dan dwarf yang jalan-jalan ke sana kemari, ya? Itu juga menarik untuk dilihat, sih.


"Terus, Yamacchi mau ngapain sekarang? Aku rencananya mau ke tutorial dulu, sekalian bikin Kartu Guild di Adventurer Guild."


"Kalau gitu, aku ikut sampai ke Adventurer Guild. Aku juga harus ikut tutorial, soalnya."


"Kamu nggak bikin kartu guild di sana?"


"Aku bakal bikin di Guild Komersial. Soalnya aku mau ambil profesi produksi. Lagi pula, berburu monster kayaknya bukan buat aku, deh."


"Masa sih? Kalau udah terbiasa juga gampang kok."


Akhirnya, aku dan Tatsu-san pun berjalan menuju Adventurer Guild.


Oh ya, sekarang ini aku bisa bebas jalan-jalan di kota karena punya surat izin masuk sementara yang kudapat di gerbang tadi, tapi surat itu bakal kedaluwarsa kalau nggak segera diganti. Kalau itu terjadi, aku bisa dikeluarkan dari kota.


Nah, untuk ganti surat izin itu, para pemain harus mendaftar di salah satu guild dan mendapatkan kartu identitas yang disebut Guild Card.


Pendaftaran awalnya gratis dan bisa dilakukan oleh siapa saja. Tapi, tiap guild punya target atau tugas wajib yang harus dipenuhi. Kalau gagal mencapainya, maka akan dikeluarkan dari guild dan kartu guild-nya juga hangus.


Dan katanya, kalau mau daftar lagi kedua kalinya, akan dikenakan biaya semacam permata berharga.


Intinya sih, konsepnya: "Siapa yang tidak bekerja, tidak makan."


Ternyata, baik di dunia nyata maupun dunia virtual, hidup memang tidak mudah ya...


"Oh, itu dia kayaknya!"


Sebuah tanda yang menunjukkan dua pedang bersilang di depan perisai.


Yup. Itu simbol Adventurer Guild, seperti yang tertera di buku panduan.


"Yuk, kita masuk."


"Yuk. Eh, kita harus daftar tutorialnya di bagian resepsi ya? Kalau iya, mending kita antri bareng aja, Tatsu-san."


"Betul tuh. Tapi Yamacchi, jangan sampai salah daftar jadi petualang ya."


Soalnya kalau daftar jadi petualang, otomatis langsung dapat kartu guild petualang. Aku nggak akan daftar di sini. Oh ya, katanya sih bisa daftar di beberapa guild sekaligus. Tapi karena tiap guild punya target sendiri-sendiri, jadi malah beban. Itu kata Tatsu-san juga.


Akhirnya kami mengantri di resepsionis dan mendaftar untuk ikut tutorial.


Sayangnya, tidak ada event seperti "Pendatang baru yang datang buat daftar jadi petualang terus diganggu petualang senior". Kupikir game sekelas LIA pasti punya event gituan...


"Kalau gitu, aku aja yang ganggu para pemain baru yang daftar jadi petualang?"


"Lakukan itu di Guild Komersial aja, ya?"


Kami pun menunggu di bar yang ada di dalam Adventurer Guild sambil ngobrol.


Ternyata, tutorial hanya diadakan di jam-jam tertentu, dan kami harus menunggu sekitar 30 menit sampai sesi berikutnya dimulai. Jadi sekarang waktunya nunggu.


"Tatsu-san, kamu tahu nggak isi tutorialnya apa?"


"Nggak berat-berat amat. Cuma disuruh kenalin tanaman obat, belajar cara membedakannya, dijelasin soal sihir dan elemen, terus sparring sama instruktur buat ngukur level kemampuan bertarung."


"Itu penting banget, apalagi bagian tanaman obatnya!"


Saking asyiknya ngobrol sama Tatsu-san, aku sampai lupa ngambil skill 【Identifikasi】!


Kalau ikut tutorial aja sudah bisa belajar membedakan tanaman obat, berarti ini semacam event langka buat calon profesi produksi, lho!


"Yah, soalnya petualang bakal pakai potion segunung. Jadi mereka harus bisa buat sendiri juga."


"Berarti... kalau gitu, kita bisa untung dong? Coba jual potion di World Market, pasti laku keras!"


"Awal-awal sih iya. Tapi lama-lama pemain udah punya skill macam-macam, metode penyembuhan juga makin banyak. Jadi potion biasa nggak bakal laku lagi."


"Hmm... kalau begitu, aku juga harus ambil skill 【Racikan】 ya?"


"Jangan rakus, ntar malah gagal karena nyoba semua hal sekaligus."


Sambil mengobrol, waktu 30 menit pun berlalu tanpa terasa, dan kami pun menuju tempat tutorial. Katanya, sesi pertama adalah materi teori dan dilakukan di salah satu ruangan lantai dua Adventurer Guild.


Saat kami masuk ke ruang yang sudah ditunjuk, sudah ada empat pemain lain di dalam.


"Heeey, Tatsu-nii~!"


"Hmm...? Wah, Kitako!? Kok kamu ada di sini!?"


"Jangan panggil aku Kitako! Namaku kan Ai!"


Salah satu pemain menyapa Tatsu-san dengan ramah. Eh? Mereka kenalan?


Ngomong-ngomong, Kitako ya...


Kalau cuma lihat potongan rambut asimetrisnya, memang sih... kelihatan kayak Kitako dari Gegege...


Tapi tetap saja...


"Tatsu-nii?"


"Dia bukan adik kandung. Dia junior waktu kerja paruh waktu dulu."


Karena Tatsu-san menyebut "kerja paruh waktu" sambil menyamarkan maksud sebenarnya sebagai Alpha Tester, berarti ini bukan hal yang boleh diumbar sembarangan. Tapi justru karena itu dia bisa jujur ke aku... aku jadi senyum sendiri, merasa sedikit lebih dekat dengannya.


"Eh, wanita cantik di sebelahmu ini pacarmu ya, Tatsu-nii?"


"Orang yang cukup dekat."


"Jangan ngomong ngambang gitu! Dia cuma cewek cantik hasil operasi yang kebetulan bareng jalan ke sini!"


Operasi di sini maksudnya apa, ya? Bukannya kamu bilang kamu nggak edit avatar-mu sama sekali?


"Eh, maaf ya, kelihatannya event nggak akan dimulai kalau semua belum duduk, jadi... bisa duduk dulu nggak?"


Anak laki-laki yang wajahnya seperti zombie itu bicara pelan dengan sopan, lalu segera kembali ke kursinya, mungkin karena nggak mau diceng-cengin.


Di sebelahnya, duduk seorang gadis berambut bob hitam mengenakan gaun pesta merah darah... dan dia menatap tajam ke arahku entah kenapa.


Eh? Aku ada salah apa ya?


Saat aku masih bingung...


▼Kamu telah diidentifikasi oleh Mylene.

▼Kamu menolak Identifikasi.

▼Skill 【Keseimbangan】 aktif.

→ Balik melakukan Identifikasi.

▼Identifikasi berhasil.



【Nama】 Mylene

【Ras】 Echidna

【Jenis Kelamin】 ♂ (Laki-Laki)

【Usia】 0 tahun

【LV】 5

【SP】 8

【HP】 70/70

【MP】 150/150

【Atk Fisik】 2

【Atk Magis】 20

【Def Fisik】 8

【Def Magis】 20

【Stamina】 7

【Kelincahan】 11

【Insting】 10

【Mental】 15

【Nasib】 3

【Skill Unik】 Pedang Pembunuh Bayangan

【Skill Ras】 Kebal Fisik

【Skill Umum】 Sihir Api Lv2 / Sihir Kegelapan Lv1 / Identifikasi Lv2 / Menyembunyikan Diri Lv1


Sepertinya aku baru saja terkena 【Penilaian】 dari anak laki-laki berjubah yang duduk di pojok ruangan.


Sambil menyembunyikan wajahnya di balik jubah, dia menatap ke arahku dengan senyum menyeringai di sudut bibirnya.


Melihat senyumnya yang menyeringai seperti itu, mungkin dia belum menyadari bahwa aku juga sudah menilai balik dirinya.


Tetap saja, menggunakan 【Penilaian】 tanpa izin orang lain itu pelanggaran etika di semua VRMMORPG, kan? Apa mungkin ini adalah VRMMORPG pertamanya? Atau dia memang sengaja?


Mungkin karena ekspresi wajahku yang aneh, Tatsu-san menatapku dengan curiga.


"Ada apa, kenapa mukamu begitu?"


"Barusan aku kena 【Penilaian】 secara tiba-tiba. Tapi di LIA, itu juga dianggap nggak sopan, kan?"


"Apa!? Siapa tuh orang nggak tahu etika kayak begitu!?"


"Udah nggak apa-apa, Tatsu-san. Informasi tentangku nggak sampai terbaca kok. Lagipula, aku malah dapat informasi tentang dia."


Mendengar perkataanku, senyum tipis dari balik jubah itu langsung membeku.


"Jadi, nggak usah dipikirin, ya? Mylene-kun?"


Saat aku berkata begitu, semua mata di ruangan langsung tertuju ke arah anak laki-laki berjubah itu.


Tanpa berkata apa pun, dia hanya mengklik lidahnya pelan lalu menunduk, berusaha menyembunyikan wajahnya.


Dari reaksinya, sepertinya dia memang sengaja pakai 【Penilaian】. Mungkin dia meremehkanku karena terlihat seperti pemula?


Atau, karena aku pakai armor yang terlihat mewah, dia jadi penasaran dan asal pakai 【Penilaian】? Kalau begitu, berarti desain armorku keren juga, ya?


"Sombong banget sih sikapnya!"


"Minta maaf aja deh, Tatsu-nii itu galak lho~"


"Yah, sudahlah. Duduk aja yuk, Tatsu-san, Kitako-chan. Kalau terus begini, tutorialnya nggak bakal mulai."


"Kitako bukan namaku! Aku itu Ai!"


Sambil menenangkan mereka berdua, kami pun duduk di tempat masing-masing. Tepat saat itu, pintu ruangan terbuka dan seorang wanita masuk.


Timing-nya pas banget. Mungkin memang seperti kata anak zombie itu, semua harus duduk dulu baru event-nya mulai?


Wanita yang masuk itu mengenakan pakaian ketat bergaya high-leg dari kulit hitam. Sosoknya sangat menggoda dengan tubuh boing-kyun-boing yang mencolok. Di punggungnya ada hiasan seperti sayap kelelawar.


Itu, kayaknya succubus, ya? Aku pernah lihat di daftar ras. Hii~ syukurlah aku nggak pilih ras itu. Dengan pakaian seperti itu, aku pasti nggak akan berani tampil di depan orang banyak…


"Baik, semua anak baru udah ngumpul ya! Pertama-tama, perkenalan dulu! Namaku adalah Liliclka! Aku petualang peringkat B! Hari ini aku dipanggil sebagai instruktur untuk ngajarin kalian dasar-dasar! Senang bertemu dengan kalian! Dan satu hal lagi──"


Dalam sekejap, sosok instruktur Lilika menghilang.


Angin berdesir, dan sesaat kemudian terdengar suara jeritan tertahan dari arah belakang ruangan. Aku baru menyadari kalau dia sudah berpindah ke sana. Tapi, pergerakannya sendiri sama sekali tak terlihat.


Saat aku menoleh, terlihat Mylene-kun yang tergantung dengan satu tangan diangkat oleh Lilika-sensei.


"Melakukan 【Penilaian】 tanpa izin pada orang lain adalah pelanggaran etika. Dalam kondisi tertentu, kau bisa langsung dibunuh. Camkan itu baik-baik."


Seharusnya Mylene-kun punya skill Kebal Fisik, tapi aku bisa lihat kalau lengan Lilika-sensei diselimuti oleh aura sihir tipis. Mungkin dengan itu, dia bisa menyentuh target walau punya Kebal Fisik?


Menyelimuti tubuh dengan sihir tipis, ya…


Yah, sepertinya itu bukan hal yang mudah dilakukan.


Kurasa perlu latihan terus-menerus setiap hari. Dari situ saja, sudah terlihat kalau Lilica-sensei memang seorang petualang yang telah melalui banyak latihan.


"Ma… maaf…"


Dengan susah payah, Mylene-kun akhirnya bisa mengucapkan kata maaf, lalu tubuhnya dijatuhkan ke lantai.


"Ugh, uhuk uhuk!"


Yup, dari kejadian ini jadi tahu banget betapa pentingnya aturan dan etika.


Terutama, jangan sampai bersikap kurang ajar ke orang yang levelnya jauh di atasmu.


"Aku nggak minta kalian jadi seperti kucing penurut, tapi selama pelatihan dasar ini belum selesai, jangan bikin masalah. Ini juga akan mempengaruhi ujian kenaikan pangkatku."


Walaupun Mylene-kun masih menatap Lilika-sensei dengan kesal, dia pura-pura nggak sadar dan tetap berdiri di depan kelas.


Entah kenapa, melihat sosoknya seperti itu membuatku merasa kalau dia benar-benar punya profesionalisme.


◆◇◆


Tutorial yang dimulai dengan suasana tidak menyenangkan itu, ternyata berjalan dengan cukup lancar.


Yah, semua orang pastinya nggak mau buang-buang waktu di tempat seperti ini tanpa alasan yang jelas...


Jadi, tidak ada yang sengaja menghambat jalannya pelajaran.


Yang terjadi hanyalah──


"Perhatikan baik-baik daun ini. Ini adalah daun dari tanaman obat. Di lantai tiga Guild Petualang, ada dokumen yang merangkum tanaman obat seperti ini, juga tanaman liar lain yang berguna. Saat menerima misi pengumpulan, pastikan untuk memeriksa referensi tanaman tersebut sebelum berangkat. Kalau tidak, kamu bisa saja berada dalam situasi konyol di mana kamu nggak tahu apa yang harus dikumpulkan."


▼【Tanaman Obat】 telah dikenali.

▼【Keseimbangan】 aktif.

Menyesuaikan jenis tanaman liar yang bisa dikenali.

▼Sekarang dapat mengenali seluruh 52 jenis tanaman liar tingkat dasar.


"………"


"Ada apa? Kok wajahmu aneh begitu?"


"Bukan apa-apa, tidak ada masalah."


...Yup, setelah logout nanti, aku pasti akan kirim email ke admin. Soal skill unik ini, jelas-jelas ada yang aneh…


◆◇◆


Di bagian tutorial tentang sihir, aku mempelajari hal yang cukup menarik.


Menurut Lilika-sensei, sihir bisa dipelajari tanpa mengeluarkan SP, asalkan kita membaca buku sihir di perpustakaan dalam jangka waktu tertentu.


Hmm, melihat ekspresi Mylene-kun yang gelisah, sepertinya dia nyesel berat.


Soalnya dia sudah menghabiskan SP untuk mendapatkan 【Sihir Api】 dan 【Sihir Kegelapan】. Kalau dihitung-hitung, dia rugi sampai 8 SP. Nggak heran dia frustrasi...


"Beberapa skill bisa dipelajari hanya dengan latihan dalam waktu lama. Memang butuh waktu, tapi semua waktu itu akan membawa kalian ke tingkat yang lebih tinggi. Selain itu, skill yang sudah kalian kuasai juga akan menjadi lebih tajam seiring pemakaian. Misalnya, jika kemampuanmu dalam sihir meningkat sampai level tertentu, kamu akan bisa menggunakan mantra sihir. Jadi kalau mau jadi lebih kuat, teruslah berlatih."


Begitu, ya… Jadi nggak semua skill harus diperoleh dengan SP. Ternyata ada juga yang bisa tumbuh sendiri dari aktivitas harian. Untung aku belum buru-buru menghabiskan SP sebelum ikut tutorial ini, bisa rugi besar nantinya.


Satu hal lagi yang cukup membekas dari penjelasan Lilika-sensei adalah soal atribut sihir.


Dalam dunia LIA, setiap atribut punya kekuatan dan kelemahannya masing-masing. Misalnya, 【Sihir Api】 lebih fokus ke serangan, tapi tidak bisa digunakan untuk pemulihan. Sedangkan 【Sihir Angin】 bagus untuk dukungan, tapi nyaris tidak punya sihir serangan.


Kata Lilika-sensei, secara umum:


【Sihir Api】 punya daya serang tinggi dan banyak sihir area, jadi wajib dimiliki oleh penyihir bertipe ofensif.


【Sihir Air】 unggul dalam pertahanan dan efek medan, sering dipakai oleh penyihir pendukung.


【Sihir Angin】 meningkatkan akurasi, evasi, dan jumlah serangan, cocok untuk profesi garis depan tipe kecepatan atau penyihir pendukung.


【Sihir Tanah】 jago dalam mengganggu musuh, cocok untuk penyihir taktis atau yang terlibat dalam peran militer.


【Sihir Cahaya】 hebat dalam menyembuhkan luka dan menghapus status negatif, jadi andalan penyihir pemulih.


【Sihir Kegelapan】 banyak digunakan untuk menjatuhkan pertahanan sihir lawan atau membuat mereka buta. Sangat cocok untuk penyihir pengganggu atau penyihir serangan yang ingin memberi efek negatif.



──Begitulah penjelasannya.


Dari semua itu, bisa dibilang kita harus memilih jenis sihir berdasarkan peran yang ingin dijalani.


Contohnya, kalau mau jadi penyembuh murni, cukup fokus ke salah satu jenis dari 【Sihir Cahaya】. Atau kalau spesialisasi buff, bisa ambil kombinasi 【Sihir Air】 dan 【Sihir Angin】.


Kalau ingin belajar sihir, harus dipikirkan baik-baik dan disesuaikan dengan rencana peran yang ingin dijalani.


Penjelasan itu benar-benar membuatku berpikir serius untuk merencanakan dengan matang sebelum memilih skill ke depannya.


◆◇◆


"Baiklah, berikutnya kita akan lanjut ke pelatihan praktik."


Baru saja aku berpikir kalau sesi tutorial di ruang kelas sudah selesai, eh sekarang kami dipindahkan ke ruang pelatihan di bawah tanah gedung Serikat Petualang. Ukurannya kira-kira sebesar aula olahraga, tapi karena ada beberapa orang lain juga di sekitar sini, suasananya jadi agak canggung.


"Bagi yang mendaftar sebagai petualang, kalau bisa menunjukkan kemampuan yang bagus, kalian bisa langsung mulai dari peringkat D! Jadi semangat, ya!"


Ehh, D-rank? Tapi... aku bahkan nggak ngerti itu artinya apa?


Karena penasaran, aku bertanya pada Tatsu-san, dan katanya, biasanya petualang mulai dari peringkat terendah, yaitu E-rank.


"E-rank itu petualang yang kerjaannya lebih ke ngumpulin tanaman, ngangkut barang, dan semacamnya. Jadi lebih banyak quest yang ditujukan buat ngajarin pemula, kayak kenalan sama warga kota atau ngapal jalur sekitar sini."


"Itu kan hal bagus. Emangnya kenapa?"


"Soalnya banyak orang mikir kalau 'petualang' itu identik sama 'ngalahin monster'. Jadi banyak yang pengin langsung loncat ke bagian berantem, tanpa harus ngerjain kerjaan antar barang segala."


"Begitu, ya. Kalau Tatsu-san sendiri gimana?"


"Aku? Hmm, dua-duanya oke lah. Mau bantu-bantu atau berantem, dua-duanya kayaknya seru."


"Yah, punya pikiran kayak gitu juga penting, sih~"


Sambil ngobrol santai sama Tatsu-san, peserta pertama—si zombie-kun—sudah maju ke depan dengan membawa pedang, dan perlahan-lahan mendekati Instruktur Ririka dengan gerakan menyeret kaki. Kelihatan kayak dia lumayan terbiasa… apa dia pernah belajar kendo?


Tapi tetap saja, serangannya dengan mudah dihindari oleh Instruktur Ririka, lalu dia dijegal sampai jatuh. Selesai dalam sekejap.


"Seranganmu cukup tajam! Tapi kamu kurang kreatif! Jangan kira semua musuh bakal menyerang dari depan!"


"Te-terima kasih banyak…"


"Selanjutnya!"


Yang maju berikutnya adalah gadis dengan gaun pesta. Begitu dia buka mulut, tiba-tiba dia mengeluarkan jeritan tajam, dan gelombang kejut melesat langsung ke arah Instruktur Ririka.


Ririka berhasil menghindar dengan selisih tipis, dan bahkan sebelum gadis itu sempat melepaskan serangan kedua, dia sudah berdiri di depannya dan menodongkan pisau ke lehernya.


"Ugh…"


"Kekuatanmu luar biasa. Tapi kamu harus mikirin juga gimana cara mengisi waktu saat cooldown skill. Oke, berikutnya!"


Sepertinya dia terbiasa melawan monster lemah, jadi nggak pernah mikir soal tindak lanjut. Dia pun mundur pelan-pelan ke sudut ruang pelatihan sambil tampak murung.


Kemudian giliran Merlin-kun. Dengan tongkat di tangan, dia berdiri diam di depan Instruktur Ririka tanpa bergerak sedikit pun.


"Kayaknya dia mikir panjang, takut skill-nya kena cooldown kayak gadis tadi."


"Iya. Soalnya kalau dihindari juga bakal sia-sia."


Tapi bagaimanapun juga, ini kan semacam ujian.


Dia nggak bisa diam terus.


"Kenapa diam saja! Sebagai instruktur, aku wajib memberi kesempatan menyerang lebih dulu padamu! Kalau kau tak bergerak, ujian ini takkan pernah selesai!"


"K-Kesal juga! 【Dark Mist】!"


Begitu Merlin mengucapkan mantra, sekeliling langsung diselimuti kabut hitam. Bukannya pakai 【Sihir Api】 andalannya, dia malah sengaja pakai 【Sihir Kegelapan】 untuk mengecoh.


Namun, begitu kabut menghilang, yang terlihat adalah tubuh Merlin yang sudah diangkat dengan satu tangan oleh Instruktur Ririka. Hah!? Apa yang terjadi!?


"Bodoh! Aku ini Succubus, makhluk yang bersahabat dengan kegelapan! 【Sihir Kegelapan】 tak mempan padaku! Pertimbangkan efek sihirmu dengan lebih bijak! Berikutnya!"


"Tatsu-nii, lihat ya! Aku akan berusaha keras!"


Tampaknya, giliran Kitako-chan sekarang.


Begitu dia menghadap Instruktur Ririka, dia langsung berteriak "Wah!" seolah ingin menang duluan.


Dan entah bagaimana, sebuah cincin putih terang muncul di udara di antara mereka.


"…………"


Tapi karena tidak terjadi apa-apa setelahnya, Instruktur Ririka langsung mengambil cincin yang mengambang itu dan memakainya buat menghantam Kitako-chan.


"Uwaah! Sakit!!"


"Setidaknya pahami dulu efek dari Unik Skill milikmu! Berikutnya!"


Jadi tadi itu Unik Skill? Kemampuan buat bikin cincin di udara? Ring laser? Kalau di game tembak-tembakan sih, kayaknya keren… tapi?


"Huhuhu… Hidungku berdarah… Tatsu-nii, balaskan dendamku~"


"Yah, baiklah. Aku maju, ya."


"Tatsu-san, semangat! Kitako-chan, mau obat herbal?"


"Mauuu…"


Aku pun menyumpalkan obat herbal yang kudapat saat praktik sebelumnya ke lubang hidung Kitako-chan.


Ini cara pakainya bener nggak sih?


"Kayaknya… enggak, deh… Hidungku malah adem gitu rasanya…"


Meski mengeluh begitu, dia nggak buang obatnya. Mungkin Kitako-chan sebenarnya anak baik.


Sementara itu, Tatsu-san...


Mungkin gara-gara semangat karena kami menyemangatinya, dia langsung melancarkan serangan akrobatik sambil menembakkan 【Fireball】 bertubi-tubi ke arah Instruktur Ririka.


Kelihatannya dia kayak nge-bypass cooldown skill, deh. Mungkin itu efek dari Unik Skill-nya? Serangannya benar-benar seperti serangan udara dari game perang. Tapi begitu Instruktur Ririka mulai terbang dengan sayapnya, keadaan langsung berbalik. Akhirnya, Tatsu-san menyerah dan mengangkat bendera putih.


Instruktur Ririka, kuat banget ya!


"Strategimu sudah terbentuk dengan baik! Kalau kamu terus mengasah teknik licikmu, kamu bisa bersaing di peringkat atas! Baik, kau boleh mulai dari peringkat D!"


"Yeay~ Dapet izin langsung. Hoki banget."


"Selamat yaa."


"Berikutnya!"


Huh?


"Umm… Saya sih sebenernya minatnya ke pekerjaan produksi, jadi nggak berencana jadi petualang. Tapi… tetap harus ikut pelatihan ini juga?"


"Aturannya memang semua harus ikut. Tenang saja, aku juga akan menyesuaikan kekuatanku. Jadi, serang saja tanpa takut."


"Ngomongnya sih gampang…"


Akhirnya, aku pun maju ke posisi berhadapan dengan Instruktur Ririka...


"Maaf, saya mau alokasikan SP dulu. Bisa tunggu sebentar?"


"Baik, aku anggap itu serangan pertamamu. Akan ku beri waktu tiga menit."


"...Mirip Kolonel Muska banget."


"Aku ini Instruktur Ririka, tahu!"


...Yah, sepertinya NPC nggak ngerti lelucon ini.


Tapi terlepas dari itu, pelatihan ini sebenarnya juga jadi peluang buatku.


Kalau kita perhatikan dari tadi, Instruktur Ririka selalu memberi saran dan arahan spesifik untuk tiap orang. Jadi, meskipun aku lemah dalam pertempuran, asal aku berusaha keras, seharusnya aku bisa dapat masukan yang berguna juga.


Lagipula, walau aku ingin jadi job produksi, bukan berarti aku mau benar-benar buta soal pertarungan. Kalau bisa bertarung dengan gaya keren, tetap menyenangkan buat gamer kayak aku.


Makanya, aku putuskan buat pakai SP-ku sekarang dan memperlihatkan gaya bertarung yang sudah kupikirkan ke Instruktur Ririka.


Pertama-tama, aku butuh 【Sihir Api】.


Jujur saja, aku nggak terlalu berbakat dalam pertarungan jarak dekat.


Karena itu, aku ingin punya kemampuan bertarung dari jarak menengah sampai jauh.


Ibaratnya kayak nabrak pakai kereta dulu, terus pakai pedang buat ngasih serangan penutup.


Jadi, aku bisa pakai 【Sihir Api】 buat serangan jarak jauh, lalu pakai pedang buat finishing. Kombinasi seperti itu ideal buatku.


Oh iya, sekalian aja aku ambil juga 【Identifikasi】, yang udah aku niatkan dari awal. Dan juga 【Pandai Besi】.


Tiga skill ini butuh total 8 SP...


Sakit sih, tapi aku anggap ini investasi yang perlu. Baiklah, saatnya eksekusi!


▼ Telah memperoleh 【Sihir Api】 Lv.1.

▼ Telah memperoleh 【Identifikasi】 Lv.1.

▼ Telah memperoleh 【Pandai Besi】 Lv.1.


Oke, dapat tiga skill sekaligus bikin aku agak semangat!


Skill itu emang lebih baik punya daripada nggak punya!


▼ 【Keseimbangan】 aktif.

— Menyesuaikan keseimbangan skill.

▼ Telah memperoleh 【Sihir Air】 Lv.1.

▼ Telah memperoleh 【Sihir Angin】 Lv.1.

▼ Telah memperoleh 【Sihir Tanah】 Lv.1.

▼ Telah memperoleh 【Sihir Cahaya】 Lv.1.

▼ Telah memperoleh 【Sihir Kegelapan】 Lv.1.

▼ Telah memperoleh gelar 【Sang Bijak】.

— SP +5

▼ Telah memperoleh 【Penyimpanan】 Lv.1

▼ Telah memperoleh 【Alkimia】 Lv.1

▼ Telah memperoleh 【Racikan】 Lv.1


"Tunggu, tunggu, tunggu!"

"Tidak bisa. Masih dua menit lagi!"

Bukan ‘tunggu’ yang itu maksudku!

Maksudku, kenapa sistem ini malah otomatis ngambilin skill tanpa persetujuan!?


Aku buru-buru membuka layar status, dan melihat angka SP 31...

Syukurlah. Sepertinya tadi aku cuma salah lihat. Kupikir aku baru saja kehilangan SP dalam jumlah besar dan sistem otomatis ngambil semua skill secara semena-mena.


Oh iya, karena aku akan pakai [Sihir Api], sebaiknya aku naikkan sedikit serangan sihir.


"Satu menit lagi!"

Suara instruktur Ririka terdengar semakin mendesak saat aku mengecek bagian skill umum di status… dan aku langsung membeku.


Enggak, serius ini!? Ada [Sihir Air], [Sihir Angin] juga!?

Maksudnya, karena aku ambil satu jenis sihir, terus sistem merasa keseimbangannya kurang dan malah otomatis ngasih SEMUA elemen sihir!?


Dan karena aku ambil [Pandai Besi], sistem juga merasa tidak seimbang dan langsung menambahkan [Meramu] dan [Alkimia]!?

Terus... [Penyimpanan] itu apaan? Skill tambahan buat keseimbangan, kayak [Identifikasi]!?


"Sepuluh detik lagi. Sembilan, delapan..."

Gawat! Ini bukan waktunya protes soal keseimbangan sistem! Aku harus naikin serangan sihir sekarang juga!


Tapi karena panik, aku malah kepencet tombol yang nggak dikenal!


▼ Gunakan semua SP ke serangan sihir?

▼ Tidak / Ya


Tentu saja tidak!! Mana mungkin aku pilih ‘Ya’!?


▼ Semua SP telah dialokasikan ke serangan sihir.


...Hah?


"Enam, lima, empat..."

Kenapa tombol ‘Ya’ dan ‘Tidak’ ketuker posisi di pilihan ini!?

UI-nya gila nih! UI-nya beneran bermasalah!


▼ Serangan sihir Yamamoto meningkat sebanyak 62 poin.

▼ [Keseimbangan] aktif.

Menyesuaikan keseimbangan status...

▼ Serangan fisik meningkat 62.

▼ Pertahanan fisik meningkat 62.

▼ Pertahanan sihir meningkat 62.

▼ Kecepatan meningkat 62.

▼ Insting meningkat 62.

▼ Mental meningkat 62.

▼ Takdir meningkat 62.


S-status, tampilkan...


"Tiga, dua, satu..."



【Nama】 Yamamoto

【Ras】 Dilahan (Peri)

【Jenis Kelamin】 ♀ (Perempuan)

【Usia】 0 tahun

【Level】 3

【SP】 0

【HP】 808 / 830

【MP】 830 / 830

【Serangan Fisik】 95 (+12)

【Serangan Sihir】 83

【Pertahanan Fisik】 98 (+15)

【Pertahanan Sihir】 96 (+13)

【Stamina】 83

【Kecepatan】 83

【Insting】 83

【Mental】 83

【Takdir】 83

【Skill Unik】 Keseimbangan

【Skill Ras】 Pemanggilan Kereta

【Skill Umum】

[Sihir Api Lv1] / [Sihir Air Lv1] / [Sihir Angin Lv1] /

[Sihir Tanah Lv1] / [Sihir Cahaya Lv1] / [Sihir Kegelapan Lv1] /

[Identifikasi Lv1] / [Penyimpanan Lv1] / [Pandai Besi Lv1] /

[Alkimia Lv1] / [Meramu Lv1]


"Nol—mulai!"

"......Aku tamat."


Baru juga mulai, tapi rasanya seluruh rencana hidupku sudah hancur total.


◆◇◆


Meskipun aku sedang dilanda keputusasaan karena kehilangan semua SP secara tiba-tiba, bagi Instruktur Ririka, hal itu hanyalah masalah sepele.

Begitu aba-aba "mulai" terdengar, sosok Instruktur Ririka langsung menghilang dari pandanganku—namun aku merasakan dia berputar ke sisi kiriku, membuatku panik dan buru-buru berbalik.


"Uwaah!?"

"!?"


Sebuah tendangan melesat tepat di depan wajahku!

Gila! Tapi sepertinya SP yang tadi dialokasikan ke status memang nggak sia-sia!


Eh? Serangan kedua datang!?


Instruktur Ririka membelakangiku, lalu berputar seperti gasing sambil melancarkan tendangan memutar kedua secara beruntun dari belakang.

Aku mencoba menunduk dan membungkuk untuk menghindar semampuku. Ya, walaupun aku tahu serangannya bakal datang, soal bisa menghindar atau tidak itu urusan lain!


"Hiee~!"

"Ini juga, hah!?"


Tendangan belakang Ririka yang tajam hanya menyenggol sedikit bagian armor-ku yang masih dalam posisi berputar, tapi dampaknya justru membuat tubuh bagian atasku makin melaju kencang.

Akibatnya, lenganku yang ikut terputar malah menghantam Instruktur Ririka yang masih dalam kondisi kaku setelah mengeluarkan serangan.

Eh? Apa dia lagi dalam efek kaku karena skill?


"Ah."

"Ugh!?"


Kupikir aku cuma menyenggol sedikit, tapi efeknya lebih parah dari yang kukira—Instruktur Ririka terpental jauh melebihi yang kuduga.

Yah, mungkin karena dia masih dalam efek kaku dari skill jadi nggak bisa menahan serangan… tapi tetap saja, terbangnya itu terlalu lebay.

Apa mungkin status serangan fisikku lebih tinggi dari yang aku sadari?


"U-umm, Anda tidak apa-apa?"

"Fufu… kekuatan serang, insting, kecepatan, kekuatan takdir... semuanya jauh di atas standar pemula! Baiklah, mulai dari D-rank saja!"


"Tapi, aku ini job-nya produksi, lho!? A-ah, juga soal evaluasi sihirku, bisa minta tolong juga… mungkin…?"


"Mana bisa ku-evaluasi sesuatu yang belum kau gunakan!? Hmph, tapi bakatmu memang nyata. Kalau suatu hari kamu ingin jadi petualang, langsung saja datang ke guild petualang. Pendaftaran untuk anak muda berbakat selalu terbuka lebar!"


"Ehh... aku rasa aku akan menolak…"


Meski dihujani ajakan penuh semangat dari Instruktur Ririka, akhirnya sesi tutorialku pun selesai dengan selamat.

………Selamat?

Posting Komentar

0Komentar
Posting Komentar (0)

#buttons=(Accept !) #days=(20)

Our website uses cookies to enhance your experience. Check Now
Accept !